Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility

Jejaring Informasi untuk Keberlanjutan Kemajuan

Diskominfo menghadirkan jejaring informasi yang terintegrasi, inovatif, dan berkelanjutan. Dengan teknologi digital sebagai penggerak, kami mendukung pelayanan publik yang transparan, adaptif, dan siap menjawab tantangan masa depan.

Slider Image
LAYANAN UTAMA

LAYANAN UTAMA

Optimalkan pengalaman dengan menu layanan kami

# Lapor Mbak Wali 112


Lapor Mbak Wali adalah layanan digital untuk menyampaikan keluhan, laporan, dan aspirasi masyarakat secara cepat, transparan, dan efektif guna mendukung perbaikan layanan publik dan lingkungan sekitar.

# PPID


PPID adalah kepanjangan dari Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi, dimana PPID berfungsi sebagai pengelola dan penyampai dokumen yang dimiliki oleh badan publik sesuai dengan amanat UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

BERITA UTAMA

BERITA UTAMA

Berita Terbaru Diskominfo

Pemerintah Kota Kediri terus mematangkan langkah strategis dalam menuntaskan permasalahan Anak Tidak Sekolah (ATS). Upaya tersebut diwujudkan dengan menggelar rapat koordinasi lintas OPD yang tergabung dalam Tim Pencegahan dan Penanganan ATS, Kamis (27/8) di Ruang Kartini Dinas Pendidikan. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan seluruh anak usia sekolah mendapatkan akses pendidikan dan mendukung komitmen Pemerintah Kota Kediri dalam mewujudkan zero ATS di Kota Kediri.    “Kegiatan ini untuk menindaklanjuti arahan Wali Kota Kediri agar kasus ATS di Kota Kediri tertangani secara tuntas dan dapat kembali mengenyam pendidikan,” terang Mandung Sulaksono, Kepala Dinas Pendidikan secara terpisah.   Kegiatan difokuskan pada penyusunan rencana kerja tindak lanjut penanganan ATS sesuai tugas dan peran masing- masing OPD. Di samping itu, tim gabungan juga akan melakukan verifikasi dan validasi data ATS yang telah dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Data tersebut mencatat 2.100 anak terdaftar sebagai ATS di Kota Kediri. Namun, angka tersebut masih merupakan data mentah yang wajib diverifikasi.    “Sebagai contoh, di Kelurahan Lirboyo terdapat hampir 800 anak yang tercatat sebagai ATS. Dari sekitar 800 anak tersebut, yang benar-benar merupakan warga Kelurahan Lirboyo tidak lebih dari 50 anak. Artinya, data tersebut perlu dikonfirmasi dan diverifikasi kembali agar benar-benar menggambarkan kondisi ATS di Kota Kediri,” terangnya.   Berdasarkan hasil pendataan, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan ATS antara lain masalah ekonomi, keharusan bekerja, permasalahan keluarga, hingga keterbatasan akibat disabilitas yang menyulitkan mereka masuk ke sekolah formal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Dinas Pendidikan bersama OPD terkait memberikan pendampingan, bantuan sosial dan menyediakan jalur pendidikan non formal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Jalur pendidikan tersebut siap menerima ATS melalui program Paket A, B, dan C yang berbasis modul dengan waktu belajar yang fleksibel, bahkan siap melakukan sistem penjemputan atau mendatangkan tutor secara langsung.   Tidak hanya pendidikan, lembaga nonformal juga memberikan berbagai keterampilan yang dapat menjadi bekal bagi peserta didik. Di antaranya keterampilan potong rambut, tata rias, menjahit dan memasak. Keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kemandirian sekaligus menjadi modal untuk memperoleh atau meningkatkan pendapatan.   “Penanganan ATS kita lakukan dengan pendekatan dan menyesuaikan kondisi masing-masing anak. Apabila mereka mengalami kendala untuk datang ke lembaga pendidikan, kita siap melakukan penjemputan atau menghadirkan tutor dari PKBM. Dengan demikian, setiap anak tetap mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan Pendidikan,” ujar Mandung.   Melalui kegiatan ini, Mandung berharap verifikasi data bisa lebih akurat sehingga penanganan ATS dapat berjalan semakin efektif dan mampu mewujudkan Kota Kediri sebagai daerah zero ATS. Sehingga seluruh anak usia sekolah dapat memperoleh haknya mendapatkan pendidikan.


28 Agustus 2026 17

Wujudkan eliminasi Tuberkolosis (TB) Tahun 2030, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri terus memperkuat upaya penemuan kasus melalui program tracing dan skrining yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dijelaskan dr Hamida, Sp.P, Plt Kepala Dinkes Kota Kediri pada Kamis (27/8), program ini menyasar lima puluh locus yang tersebar di sembilan puskesmas di Kota Kediri dan dilaksanakan secara bertahap pada Agustus hingga September serta awal November 2026.   Hingga penghujung Bulan Agustus ini, kegiatan tersebut telah dilaksanakan di dua belas locus dengan target sasaran 100 warga pada tiap-tiap locus, khususnya masyarakat yang memiliki riwayat kontak dengan penderita TB.   Menurut dr Hamida, upaya tersebut perlu dilakukan sebagai tindak lanjut program Kementerian Kesehatan untuk memperkuat deteksi dini TB. Pasalnya, kasus TB masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Secara nasional, setiap tahun ditemukan sekitar 1.080.000 kasus baru. Sementara di Kota Kediri, sejak Januari hingga Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.240 kasus TB telah ditemukan di Kota Kediri.   “Dengan masih tingginya kasus TB, diperlukan upaya untuk menemukan sebanyak mungkin kasus yang ada di masyarakat. Semakin banyak kasus yang ditemukan, semakin cepat kita bisa melakukan pengobatan sehingga penularan dapat dicegah,” jelasnya.    Dalam pelaksanaannya, warga yang memiliki riwayat kontak dengan penderita TB dikumpulkan di satu lokasi untuk menjalani pemeriksaan. Kegiatan pemeriksaan dilakukan secara terintegrasi meliputi skrining TB, Cek Kesehatan Gratis, serta pemeriksaan X-ray menggunakan perangkat X-ray portable. Penggunaan X-ray portable memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara langsung di lokasi sasaran sehingga proses skrining dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau masyarakat yang memiliki resiko.    Agar kegiatan berjalan dengan lancar, pihaknya turut melibatkan berbagai petugas, di antaranya: tenaga kesehatan dari puskesmas, Dinas Kesehatan Kota Kediri, serta radiografer dari RS Kilisuci.    Dari pelaksanaan tracing sejauh ini, ditemukan beberapa peserta yang diduga mengalami TB. Hasil pemeriksaan X-ray yang menunjukkan adanya kecurigaan TB selanjutnya akan dikonsultasikan kepada dokter spesialis paru yang telah ditunjuk. Apabila hasil pemeriksaan lebih lanjut menyatakan pasien terdiagnosis TB, maka pengobatan akan segera dilakukan melalui puskesmas.   Masyarakat perlu mengenali gejala awal TB. Salah satu gejala yang perlu diwaspadai adalah batuk yang tidak kunjung sembuh, terutama apabila berlangsung sekitar dua minggu atau lebih. Gejala tersebut dapat disertai penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, sering berkeringat pada malam hari tanpa melakukan aktivitas berat, serta demam yang berlangsung terus-menerus.    Pemerintah menekankan bahwa penderita TB wajib menjalani pengobatan hingga tuntas. Karena pengobatan yang dilakukan secara disiplin tidak hanya penting untuk kesembuhan pasien, tetapi juga untuk mencegah penularan kepada orang di sekitarnya. "Obat TB sudah disediakan secara gratis dan ditanggung pemerintah. Yang paling penting adalah kepatuhan pasien untuk menjalani pengobatan sampai tuntas. Dukungan keluarga dan lingkungan juga sangat diperlukan,” ungkapnya.   Karena itu, upaya tracing tidak hanya membutuhkan keterlibatan tenaga kesehatan, tetapi juga dukungan berbagai pihak di tingkat masyarakat. Pemerintah kelurahan, Bhabinkamtibmas, keluarga, serta lingkungan sekitar diharapkan dapat turut membantu memastikan pasien menjalani pengobatan sesuai ketentuan hingga selesai.   Melalui kegiatan deteksi dini ini, diharapkan semakin banyak kasus TB yang selama ini belum terdeteksi dapat ditemukan dan segera mendapatkan pengobatan. Dengan demikian, mata rantai penularan TB di masyarakat dapat diputus dan jumlah kasus TB di Kota Kediri dapat terus ditekan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen menuju target eliminasi TB pada 2030.


28 Agustus 2026 25

Suasana semarak mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Wakaf Jamsaren melalui tradisi Sebar Koin, Senin malam (24/8/2026). Tradisi yang diyakini telah berlangsung sejak tahun 1908 ini menjadi sarana unik masyarakat setempat dalam merayakan hari lahir Rasulullah SAW sekaligus memakmurkan masjid.   Rangkaian acara dimulai pagi hari dengan khotmil Qur’an dilanjutkan usai shalat Maghrib dengan pembacaan Kitab Al-Barzanji dan shalawat. Puncak acara terjadi setelah shalat Isya, saat takmir dan jamaah menebarkan uang koin serta lembaran kertas dari lantai atas masjid ke arah jamaah di bawah. Riuh gembira jamaah yang berebut koin pun memecahkan suasana.   Keseruan tersebut dirasakan langsung oleh anak-anak yang memadati area bawah masjid. Sambil menghitung koin dan uang kertas hasil tangkapannya, salah satu anak mengungkapkan rasa senangnya.     "Seru sekali, selalu ditunggu setiap tahun! Tadi dapat uang koin sama uang dua ribuan, lumayan buat beli jajan dan ditabung," ujar salah satu anak dengan gembira usai berebut koin.   Penasihat Kegiatan Masjid, H. Mahrus Mahali, menjelaskan bahwa respon antusias anak-anak inilah yang menjadi esensi utama syiar agama. Melalui kegembiraan berbagi ini, jamaah utamanya anak-anak diharapkan semakin terikat dan senang berkunjung ke masjid.   "Ini sarana syiar untuk mengajak masyarakat utamanya anak-anak senang memakmurkan masjid. Masjid tidak hanya tempat ibadah ritual, tapi juga wadah pembinaan keimanan dan sosial yang menyenangkan," jelas Mahrus.   Hal tersebut diamini oleh Esti, salah satu jamaah yang ikut bersedekah. Menurutnya, aksi ini adalah bentuk sedekah plus-plus. Meski nominalnya bervariasi, senyum gembira anak-anak membawa keberkahan tersendiri bagi jamaah.   “Alhamdulillah senang sekali, dapat berpartisipasi dalam momen ini,” ujar Esti.   Dukungan penuh juga datang dari Lurah Jamsaren, Tri Amin Prakoso. Selain efektif meramaikan tempat ibadah dan mempererat silaturahmi warga, ia menilai tradisi ini memiliki nilai jual budaya yang tinggi.   "Kami mendukung penuh kelestarian tradisi ini. Selain memakmurkan masjid, kegiatan unik ini sangat berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya religi di Kelurahan Jamsaren," tutur Tri Amin.


25 Agustus 2026 52
CEK HOAKS

CEK HOAKS

Mari bersama lawan hoaks dan wujudkan ruang digital yang sehat

Cek Hoaks Komdigi

Hoaks dapat menyesatkan dan merugikan masyarakat. Komdigi menghadirkan informasi edukatif untuk membantu masyarakat mengenali, memverifikasi, dan menyaring informasi sebelum dibagikan.

Cek Hoaks Pemprov Jatim

Temukan informasi yang mencurigakan atau hoaks? Laporkan melalui layanan resmi untuk ditindaklanjuti. Pelaporan dapat dilakukan melalui Klinik Hoaks Provinsi Jawa Timur.

KOMDIGI & LITERASI DIGITAL

KOMDIGI & LITERASI DIGITAL

Temukan konten Komdigi terbaru untuk menambah wawasan digital

Majalah Komdigi
Artikel Komdigi
Siaran Pers Komdigi

Kritik dan Saran

112
Bagaimana Tanggapan Anda?

Bagaimana Tanggapan Anda?

Berikan masukan untuk perkembangan konten website Diskominfo Kota Kediri

Sangat Puas
80%
Puas
0%
Cukup Puas
20%
Tidak Puas
0%