Lindungi Generasi Muda dari Bullying dan Narkoba, Pemkot Kediri Dorong Penguatan PIK-R dan SSK di Sekolah Rakyat
Guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan ramah anak, Pemerintah Kota Kediri melalui DP3AP2KB menggelar kegiatan Bimtek Program Bangga Kencana Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan penerapan Sekolah Ramah Anak, Rabu (4/11). Kegiatan diikuti oleh 31 guru yang dilaksanakan di ruang pertemuan Sekolah Rakyat.
Kepala DP3AP2KB dr Fajri Mubasysyir dalam keterangannya mengatakan kegiatan ini menindaklanjuti arahan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) agar sekolah- sekolah segera membentuk PIK-R dan SSK. Menurutnya keberadaan PIK-R dan SSK sangat penting bagi peserta didik dalam menghadapi berbagai persoalan remaja, mulai dari perundungan, penyalahgunaan narkotika, hingga risiko pernikahan dini. Dengan program ini diharapkan dapat membuat para remaja lebih nyaman menyampaikan persoalan yang dihadapi karena dapat bercerita dan bertukar pikiran dengan teman seusianya tanpa merasa sungkan.
“Sekarang ini anak-anak rentan terhadap perundungan, peredaran narkotika dan pernikahan dini. Melalui PIK-R, siswa dapat memperoleh informasi, edukasi, dan konseling dengan pendekatan pendidik sebaya maupun konselor sebaya. Mereka bisa lebih leluasa untuk bercerita ke teman sebayanya,” terangnya.
Dalam implementasinya, PIK-R akan dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler dengan pertemuan rutin setiap minggu. Kegiatan tersebut juga dapat melibatkan Duta Genre untuk memberikan edukasi dan pendampingan kepada para siswa. dr Fajri menambahkan, pembentukan PIK-R di Kota Kediri masih perlu terus ditingkatkan. Dari total 56 SMP dan SMA negeri maupun swasta yang terdata, saat ini baru 23 sekolah yang telah memiliki PIK-R. Untuk itu, diperlukan koordinasi dan komunikasi dengan sekolah-sekolah, sekaligus dukungan anggaran. “Artinya, masih diperlukan perluasan pembentukan program melalui koordinasi yang lebih intensif dengan pihak sekolah, termasuk dukungan anggaran agar pelaksanaannya berjalan optimal,” ujarnya.
Adapun materi yang dipaparkan dalam bimtek ini meliputi pembentukan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), pengenalan PIK-R, serta penguatan penerapan Sekolah Ramah Anak melalui konsep Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
Melalui bimtek ini, diharapkan seluruh guru memiliki pemahaman dan persepsi yang sama mengenai pelaksanaan PIK-R, SSK, guna mewujudkan Sekolah Ramah Anak. Terlebih di Sekolah Rakyat menggunakan sistem pendidikan berasrama yang dinilai lebih rawan terjadi perundungan, kekerasan seksual, dsb. “Dengan pemahaman dan pengawasan bersama, potensi terjadinya perundungan, kekerasan, maupun kekerasan seksual di lingkungan sekolah dan asrama diharapkan dapat dicegah sejak dini sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak,” pungkasnya.
Sementara itu, Nur Zam’ah Kepala Sekolah Rakyat menyambut positif pelaksanaan kegiatan bimtek yang diselenggarakan oleh DP3AP2KB. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting bagi dunia pendidikan, mengingat sekolah merupakan salah satu lingkungan utama dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Ia menuturkan guru perlu memiliki wawasan dan pemahaman yang memadai mengenai Sekolah Ramah Anak, Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), serta program Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).
Dari sisi kesiapan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah guru yang akan menjadi penanggung jawab atau PIC untuk program SSK maupun PIK-R. Seluruh guru mulai dari guru SD, guru kelas, hingga guru SMA dilibatkan dalam kegiatan ini. Ia berharap, setelah kegiatan ini pihaknya bisa memaksimalkan tim kerja yang telah dibentuk untuk mendukung program SSK, PIK-R, dan Generasi Berencana (Genre) agar dapat menjalankan perannya secara optimal.
“Melalui kegiatan ini para guru memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Materi yang diperoleh nantinya dapat diimplementasikan ke dalam mata pelajaran sehingga edukasi mengenai perlindungan anak, kependudukan dan kesehatan remaja tidak hanya menjadi program tambahan, tetapi juga bagian dari budaya pendidikan sehari-hari,” jelas
nya.